Sabtu, 19 Desember 2020

PERAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI MUSIBAH

UBINHIJAU- Terkadang sikap maupun perasaan yang ada pada diri setiap manusia memiliki kepekaan yang sangat kuat terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya. Bermula perubahan sikap yang tak wajar ini biasanya dapat dirasakan oleh orang terdekat kita. seperti banyak terjadi ketika seseorang akan mengalami musibah, orang terdekat entah itu anggota keluarga maupun sahabat bisa merasakan keganjalan yang terlihat meski hal tersebut baru disadari ketika musibah itu telah terjadi. inilah yang disebut orang Tua dulu yatu suatau pertanda. Pernah saya alami, ketika kawan satu kost an akan pulang kerumah ia hendak berpamitan, suatu hal yang tidak biasa terbesit dalam pandangan. menggunakan pakaian serba hitam dari kemeja (tanpa jaket), celana, sepatu sampai Helmt yang tak pernah terlihat ia miliki Helmt Hitam, hari itu juga dia gunakan Helmt Hitam itu. Meskipun saya merasakan keganjalan itu di tambah memang ia orang yang tak menyukai warna Hitam entah mengapa saya hanya bisa terdiam memandang keanehan itu seakan sesaat mulut tak mau untuk satu server dengan otak dan hati. Perjalanan pulang membutuhkan waktu yang cukup lama ditambah melewati dibawah terik sinar mentari yang saat itu memang sangat panasa terasa menyentuh kulit. Beberapa hari berlalu, yang seharusnya dua hari yang lalu kawan satu kost tadi telah kembali ke kost namun di hari ini ia belum juga kembali. Iseng-iseng menanyakan kabar ditambah lagi memang tak sabar menunggu harta karun yang bagi sebagian anak Kost an sangat berarti di tanggal Tua, yang biasanya selalu ia bawa ketika sekembalinya dari Rumah. Kabar tak enak terdengar bahwa kawan satu kost itu mengalami kecelakaan ketika perjalanan pulang kerumah, saat ini sedang dirawat di rumah sakit di kotanya untuk menjalani perawatan karena beberpa bagian tubuhnya mengalami cidera yang serius. Perasaan campur aduk dalam hati merasa bersalah, jika saja ketika itu saya bisa mneyampaikan perasaan tak enak ini kemungkinan hal tersebut tak akan terjadi. Ungkapan keliru seperti itu sering terbesit dalam hati seseorang yang menyadari keganjalan itu dari awal ditambah saat ketika mendengar kabar kurang baik itu tedengar.Teringat dalam Al-Qur'an "Sesungguhnya Kami milik Allah dan Kepada-Nya lah kami kembali" jadi tak perlu ada yang disesalkan cukup kita sebagai manusia untuk intropeksi diri mengenai apa yang belum ataupun telah sesuatu itu terjadi. "Dan apa-apa yang mengenai kamu dari kecelakaan, maka adalah dengan sebab usaha tangan-tangan kamu, padahal Ia ampunkan(sebagian)banyak" Q.S. Asy-Syura: 30. Dari sini mungkin dapat menjadi suatu pelajaran bagi kita, bahwa perasaan yang peka dan terdapat pada diri setiap manusia harus digunakan untuk saling menasehati antar sesama, bukan untuk saling menyalahkan berhusnudzon atau menyalahkan moment yang telah terjadi. lebih-lebih manusia sebagai makhluk yang berakal dan memiliki hati di harapkan untuk memperbanyak intropeksi diri dari segala sesuatu yang dia buat. Mungkin banyak kejadian-kejadian yang terjadi namun diri kita saat itu tidak sadar posisi kita saat itu sebagai apa manusia yang memberi nasehat atau manusia yang harus Intropeksi. jalankan sesgala sesuatu dengan mengingat Allah diawali dengan Bismillahirrahmannirrahim.

PERAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI MUSIBAH

UBINHIJAU - Terkadang sikap maupun perasaan yang ada pada diri setiap manusia memiliki kepekaan yang sangat kuat terhadap apa yang akan terj...